Thursday, January 21, 2016

Produk Untuk Si Kulit Sensitif (Atopik)

Hallo!

Sudah lama saya tidak sharing di sini. Sebenernya yang bikin saya gatel banget untuk nulis adalah pengalaman saya tentang sensitive skin, dermatitis atopik, asma kulit atau eksim. Sudah lama ingin sharing namun ada hal yang jadi pertimbangan, yaitu produk yang memiliki opini positif belum saya coba semua. Saya ingin coba semuanya bukan hanya menyalurkan keinginan untuk belanja, hihi, tapi juga ingin memberikan ulasan terbaik yang bisa saya lakukan. Bagaimana saya bisa bilang kalau produk A the best untuk saya kalau saya belum pernah pakai produk B? Tapi di pos ini saya belum akan mengulas produk. Saya mau berbagi pengalaman tentang kulit sensitif yang tiba-tiba saya alami.

Jadi saat itu saya baru selesai mandi dan tiba-tiba badan saya terasa gatal di bagian dada persisnya di bagian V line baju yang saya pakai. Karena tidak tahan akhirnya saya lihat dan ternyata muncul bintik-bintik merah di bagian tersebut.
Karena curiga baju yang dicuci tidak bersih akhirnya saya memutuskan untuk ganti baju tapi ternyata di bagian betis persis di batas bawah baju muncul juga merah-merah dengan bentuk yang sama. Kecurigaan saya: 
  1. alergi pewangi baju
  2. alergi sabun mandi
  3. sprei kotor
  4. alergi bulu kucing yang suka berkeliaran dan nempel di baju
  5. alergi body lotion (parfum atau oilnya) karena ada 2 produk yang beda dari biasa yang saya gunakan. Salah satunya produk 'rempah' buatan negeri sendiri. agak nyesel coba produk ini hiks.
  6. skabies – eww!
Saya mengurutkan kecurigaan saya berdasarkan kemungkinan terbesar. Penanganan saat itu saya mandi lagi, ganti baju, cuci baju yang saya curigai terkena bulu kucing, ganti sprei, minum antihistamin dan oles steroid topikal. Kemudian besoknya daerah gatal tersebut semakin meluas, dari betis naik ke paha, muncul dibagian tangan kanan kiri, dada sampai perut. Kalau ditulis dalam status dermatologis bunyinya “papul eritematosa milier diskret”.

Tiga hari berlalu saya masih tidak tahan dengan rasa panas dan gatal yang muncul. Gatal terutama kalau lagi diam, tapi saat ada kegiatan masih terasa gatal juga, dan saat mau subuh. Wah rasanya gatal banget deh. Saya mandi 3-4 hari sekali, ganti sabun mandi dengan sabun bayi dan pakai Caladine, minum air kelapa tapi gatal tidak hilang. Dan saya memutuskan untuk ke dokter kulit di rumah sakit terdekat dengan rumah. Saat saya menunjukkan kelainan kulit yang saya alami beliau mendiagnosis saya dengan skabies. Apa? Skabies? Kecurigaan yang saya taruh di paling akhir malah muncul di diagnosa. Tapi herannya hanya saya mengalami hal tersebut. Suami dan keluarga saya tidak ada satu pun yang mengalami keluhan gatal sekali pun. Karena saya ingin sembuh dan tidur dengan nyenyak saya pakai oles Scabimite yang diresepkan ke seluruh tubuh, dari leher hingga kaki dan didiamkan 12 jam. Kalau benar skabies ya biar sembuh, kalau bukan setidaknya saya sudah berusaha.

Ternyata besoknya saya masih belum merasakan adanya perbaikan. Dan akhirnya saya mengganti sabun bayi dengan sabun sulfur, salep 88 sampai mencoba salep 24 (ketidaksabaran saya mohon tidak dicontoh). Suami saya juga ikut repot mencari info di internet. Saya juga ikut saran mandi dengan rebusan air daun sirih. Dalam pikiran saya, saya hanya ingin sembuh karena saya jadi susah tidur. Untuk tidur saya punya kebiasaan harus pakai bed cover, tapi kalau pakai bed cover terasa panas dan semakin gatal. Sebel kan. Tapi ternyata rasa panas dan gatal masih ada. Merah-merah yang tadinya seperti beruntusan sekarang muncul dengan bintik merah kayak orang sakit demam berdarah, Petekie. Mana sempet ada adegan nangis pula deh di sini. Soalnya dengan kondisi seperti ini saya jaga jarak dengan keluarga, keponakan sampai suami. Jelek-jeleknya ini benar skabies saya tidak mau yang lain ikut tertular.

Tiga hari terakhir di atas adalah hari yang terasa sangat berat dan lama. Karena rasanya saya tidak sanggup beraktivitas karena rasa gatal yang saya alami. Lama banget deh rasanya hari berganti. Saya tidak tahan dan akhirnya berobat ke dokter spesialis kulit yang sudah turun temurun keluarga saya berobat. Kalau ada penyakit kulit yang berat atau tidak sembuh-sembuh pasti berobat ke beliau. Beliau mengatakan kulit saya atopi, asma kulit. Saran beliau saya harus menghindari bulu-bulu, tidak mandi dengan air hangat, dan tidak berkeringat dan berolahraga. Itu yang saya inget sarannya. Makin kayak princess deh. Saya juga diberikan injeksi tapi saya lupa tanya isinya, soalnya saya pikir pasti sekitar anti alergi mengingat ini alergi. Saya bersedia soalnya suami saya sudah pesan ‘nanti minta disuntik aja biar cepet sembuh’. Selesai berobat sekitar jam 1 malam dan langsung saya pakai sabun mandi, krim, bedak kocok bila gatal, dan obat minum yang isinya histamin dan steroid. Besok malam saya merasa adanya perbaikan dan yang penting juga bisa tidur nyenyak. Pada siang hari saya tidak perlu garuk-garuk karena rasa gatal. Dan suami saya senang sekali karena melihat hasil pengobatan yang signifikan. Untuk lama pengobatannya sendiri hingga bruntusan dan gatalnya benar hilang sekitar 2 minggu. Dan setelah 1 bulan lebih suka muncul sedikit-sedikit rasa gatal. Saya akhirnya balik lagi berobat dan diberikan sabun mandi dan krim. Setelah itu saya juga sempat kontrol dan mencari tahu untuk perawatan yang tepat pada kulit atopi.

Saya sempat kaget juga kok tiba-tiba mengalami atopi. Karena sudah lama sekali terakhir saya memiliki keluhan kulit atopi dan sensitif. Terakhir rasanya saat saya masih kecil. Apapun penyebabnya, mau tiba-tiba atau ada pengaruh dari obat topikal yang saya pakai sebelumnya, yang paling penting adalah penanganan yang tepat. 

Mengingat atopi harus ada penanganan berkelanjutan untuk perawatan sehari-hari atau maintenance. Apa saja produk perawatan untuk kulit sensitif yang saya coba?

Kali ini kita akan bahas tentang perawatan harian untuk Dermatitis Atopi yang memiliki kulit sensitif. Namun sebelumnya kita harus memahami lebih dulu apa yang terjadi dan cara mengatasinya. Saya berusaha untuk menjelaskan secara sederhana agar mudah dipahami. Tapi ya sedikit teori ya :p

Dermatitis Atopik adalah penyakit peradangan kulit yang ditandai rasa gatal yang hebat, bersifat kronik, residif. Penyakit ini sering dihubungkan dengan tingginya kadar immunoglobulin E (IgE) serum dan terdapatnya riwayat penyakit atopi, misalnya asma bronkial, rhinitis alergik dan dermatitis pada pasien maupun keluarganya. Pada dermatitis atopik terdapat gangguan sawar (barrier) kulit yang menyebabkan peningkatan cairan transepidermal dan penurunan hidrasi kulit. Stratum korneum sebagai sawar epidermal berfungsi melindungi tubuh terhadap kehilangan cairan dan difusi bahan melalui kulit. Karena adanya kerusakan pada sawar epidermis maka terjadi peningkatan kehilangan cairan transepidermal dan pengeluaran cairan dari stratum korneum. Di sini terjadi perubahan pada stratum korneum dimana korneosit yang membentuk stratum korneum menjadi mengkerut dan menyebabkan mudahnya bahan-bahan iritan dan alergen untuk masuk. Stratum korneum pada kulit mengandung banyak lemak yang terdiri dari seramid, kolesterol, dan asam lemak bebas. Seramid merupakan lemak paling banyak dari seluruh stratum korneum (45%).

Apa yang dapat dilakukan? Menggunakan pelembab atau moisturizer. Saat terjadi kerusakan sawar kulit, perbaikan dapat terjadi bila kehilangan air dapat dicegah dengan pemberian pelembab. Pelembab akan meningkatkan kandungan air pada stratum korneum. Berikut beberapa mekanisme kerja dari pelembab dalam merehidrasi stratum korneum,

1. Membentuk lapisan oklusif, contohnya petrolatum dan minyak mineral. Bekerja dengan cara membuat lapisan oklusif yang akan memperlambat penguapan air.

2. Humektan adalah bahan yang larut dalam air dengan kemampuan mengikat air yang tinggi. Humektan bekerja dengan menarik air ke dalam kulit, mampu menarik air dari atmosfer (jika kelembaban atmosfer >80%) dan epidermis. Contoh: gliserin, sorbitol, urea, propilen glikol, natrium hialuronat, asam hidroksi-α dan gula.

Humektan terdiri atas;
  1. Natural moisturizing factor, berperan penting dalam menahan air pada stratum korneum, contohnya asam karbosiklik pirolidon, urea dan asam laktat.
  2. Polyol, terdiri dari sejumlah molekul hidroksil yang bersifat higroskopis, bahannya antara lain sorbitol dan propilen glikol.
  3. Molekul makro seperti asam hialuronat, kondroitin sulfat dan elastin.
  4. Liposom seperti niosom
3. Rekonstruksi lapisan lemak antar sel. Lemak pada pelembab yang menggantikan lemak antar sel yang rusak. Penambahan lemak tersebut akan memperkokoh struktur sel lemak sehingga meningkatkan kohesi antar karneosit tersebut. Bahan-bahan tersebut anta lain; asam linoleat, seramid, kolesterol dan kolagen.

Keuntungan dan guna pemakaian pelembab jauh lebih kompleks dari paragraf di atas. Untuk lebih lengkap bisa baca pada link di bagian bawah pos.

Jadi bisa diambil kesimpulan kali ini saya akan mengulas beberapa produk pelembab yang mengandung seramid. Mengingat seramid adalah lemak paling banyak pada stratum korneum. Selain itu yang menjadi perhatian adalah produk berikut tidak mengandung pewangi, salah satu yang menjadi perhatian bagi kulit sensitif dan atopi. Ada 2 produk yang menurut saya responnya paling baik. Dynamic Duo gitu istilahnya, yaitu Erhalogy Hydrating Body Wash dan Erhalogy Skin Barrier Cream.

Erhalogy Hydrating Body Wash

Kalau beli sabun dapat bath sponge juga.


Sebenarnya sabun ini tidak dikhususkan untuk kulit sensitif tapi lebih ditujukan untuk mature skin. Hanya saja kandungannya bisa digunakan untuk kulit sensitif seperti Allantoin, Pro Vitamin B5, dan Aloe Vera yang melembabkan serta menenangkan kulit yang teriritasi ringan.

Keterangan cara pakai dan komposisi pada kemasan belakang.

Saat masuk ke fase maintenance atau perawatan cuma sabun ini yang cocok untuk saya. Perlu banget ya saya garis bawahi hehe. Selain ini emang ada yang sudah saya coba? Ada, baca di sini ya. Ada sensasi dingin tapi ga terlalu jelas, terasa lembut dan lembab setelah mandi. Wangi masih ada tapi lembut banget. Karena produk ini disertai sponge jadi saya juga akan bahas mengenai pemakaian spongenya. Pada dasarnya sabun ini tidak terlalu banyak menghasilkan busa. Di awal pemakaian saya suka taruh sabunnya di sponge yang sudah basah. Terus diremas-remas sampai berbusa. Tapi sayang, masa saya dapet busanya doang? Akhirnya saya mencoba taruh sabun di seluruh badan lalu gosok dengan sponge. Menurut saya ini kurang enak juga sih, soalnya busanya jadi dikit pas digosok. Merasa gosok-gosok yang saya lakukan seperti sia-sia gitu. Jadi, saya ga pake sponge pada akhirnya. Soalnya sabun ini pada dasarnya sudah enak banget langsung ditaruh di badan dan gosok dengan tangan. Salah satu pertimbangan saya juga karena sponge atau bath lily bisa jadi sarang bakteri dimana kulit atopik 'sensitif' mengenai hal ini.

tutup flip-flop

Kalau dari segi kemasan menurut saya sangat simple, mudah dibawa alias travel friendly. Kekurangannya hanya ada 1 macam kemasan botol isi 100 ml ini dan tidak ada kemasan refill. Agak sayang lihat botol plastiknya karena sabun ini kurang lebih buat sebulan pas. Mungkin bisa dipertimbangkan untuk kemasan besar atau refill-nya? Produk ini bisa dibeli di cabang Erha dengan harga Rp 80.000-an.

Konsistensi Erhalogy Hydrating Body Wash

 Repurchase? Yes.


Erhalogy Skin Barrier Cream

Kemasan besar lama dan baru dan kemasan kecil Erhalogy Skin Barrier.

Kiri-kanan: Erhalogy Skin Barrier kemasan lama & baru.

Foto produk ini banyak banget karena kebetulan saya punya 3 macam kemasan; besar lama, besar baru dan kecil. Untuk membedakan aja mana yang lama dan baru biar ga bingung. Kemasan Erhalogy Skin Barrier Cream ini yang kecil, kecil banget. Yang besar, besar banget. Tapi ga kok besarnya kira-kira sama dengan produk pelembab tubuh merek lain. Model tube seperti ini memang lebih higienis karena ga kena colak-colek.

FYI, produk pelembab Erhalogy ini ada 3 macam Skin Barrier Lotion, Skin Barrier Cream dan Hydrating Body Balm. Kalau lotion sama cream kurang lebih sama hanya konsistensinya aja yang beda. Nah, kalau yang Hydrating Body Balm ini memang isinya beda dan lebih dikhususkan untuk mature skin yang seringkali punya keluhan kulitnya terasa gatal.

Fonts dan keterangan di belakang kemasan lama.
Fonts dan keterangan di belakang kemasan baru.
komposisi.

Perbedaan penjelasan kandungan di kemasan lama tertulis SK Influx yang diantaranya terdapat Ceramide 1,3,6. Sedangkan produk baru penulisannya Ceramide Complex dan Vitamin E. Kalau rasa saat dipakai sih sama saja buat saya.


Segel Erhalogy SBC kemasan besar. Kemasan besar tanpa kardus.

Kalau segel antara yang besar dan yang kecil memang berbeda. Kalau kemasan Erhalogy SBC yang kecil itu dari kardusnya pun sudah ada segelnya dan pada bagian tube dalam juga ada segel alumuniumnya. Sedangkan untuk kemasan besar tidak disertai dengan kardus dan segelnya hanya di bagian tube saja.


komposisi Erhalogy SBC kemasan kecil


Segel di kemasan kardus Erhalogy SBC kecil.

Yang saya suka produk ini karena tentunya cocok dengan saya di masa perawatan awal. Agak tricky memang menggunakan krim ini karena konsistensinya tidak ringan. Soalnya kemasan besarnya hanya berisi 125 g. Ga akan cukup buat sebulan kalau sekali pemakaian terlalu banyak. Jadi, setelah mandi tidak perlu handukan sampai kering karena pada kulit atopi juga sebenarnya kita membutuhkan kelembaban tersebut. Nah saat-saat setengah basah itulah (kira-kira tidak lebih dr 3 menit setelah mandi) langsung oles pelembab ke seluruh tubuh. Lebih berguna karena kita nge-‘lock’ kelembaban kulit tadi dengan pelembab dimana itulah guna pelembab pada kulit atopi. Selain itu juga lebih irit pada pada pemakaian pelembab.


tutup flip flop.

Segel di kemasan kecil.

Bisa dibeli di cabang Erha dengan harga Rp 194.500. Repurchase? Yes

Dari 8 bulan lalu saya masih pakai ini, semenjak sudah stabil kadang saya selingi dengan pelembab lain bahkan yang memiliki wangi seperti The Body Shop Shea atau yang seri nutty fruity lainnya tapi agak kurang sreg ya sekarang karena jadi merasa wangi gitu TBSnya. Biasa pakai yang no fragrance atau wangi lembut hehe. Saya pasti sedia ini soalnya in case kulit saya rada ngambek, ga cocok sama pelembab lain bisa saya tenangkan dengan ini. Sama dengan sabun Erhalogy Hydrating Body Wash.


Beberapa percobaan saya lakukan di waktu 2 bulan pasca atopic muncul, yaitu saat mulai masuk ke fase perawatan. Penilaian saya terhadap produk dilihat dari keluhan gatal berkurang sebagai indikatornya. Dan 2 produk inilah yang memeberikan respon paling baik. Untuk tahu produk apa saja yang sudah saya coba bisa cek di sini sebagai alternatif.

Di fase awal perawatan saya masih suka merasakan gatal terutama bila berkeringat, kotor dan habis wudhu dimana saya butuh pelembab lagi untuk menjaga kelembabannya. Sampai sekarang saya masih selalu sedia pelembab di tas bila dibutuhkan walaupun kondisi saya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Karena yang penting dari atopik adalah perawatannya.



Sekian sharing saya, semoga bisa membantu bagi yang membutuhkan. Semua produk yang saya sebutkan di atas saya beli sendiri dan saya coba sendiri. Keduanya produk di atas adalah produk bebas atau over the counter (otc) dan tidak perlu resep. Mungkin masih ada yang mikir Erha ini semua produknya obat dan takut bisa bikin ketergantungan? Jawabannya, Tidak ya. Perlu diingat adanya kebutuhan dan respon yang dapat berbeda-beda pada setiap orang.

sumber: jurnal

No comments:

Post a Comment