Sunday, May 3, 2015

Acne: Better Hide or Cure It?

Ada beberapa hal yang membuat saya gemas belakangan ini. JERAWAT. Iya jerawat di wajah saya. Walaupun masalah ini bukanlah sesuatu yang asing untuk saya tapi tetap saja saya gemas banget. Pengen cepat-cepat diusir rasanya kalau bisa. Satu bulan belakangan ini jerawat saya muncul karena tingkat stress yang lebih tinggi dari biasanya, pemakaian kosmetik, dan ditambah lagi dengan riwayat atopi yang lagi kencang banget kambuhnya 2 bulan ini. Udah deh. Ampun.

Terakhir posting foto saya menutupi kekurangan tersebut dengan BB cream. Agar hasilnya warna kulit saya tampak rata, bebas merah-merah, juga bisa menghandle jerawat-jerawat kecil di wajah. Jadi terkesan mulus. Terakhir saya menghadiri acara juga tetap memakai makeup untuk menutupi kekurangan di wajah saya. Tapi apakah makeup menjadi penyelesaian untuk kasus akne atau jerawat?

Yang akan saya bahas bukan apakah sudah berhasil membuat wajah dengan berbagai kekurangan lalu bisa dikoreksi dan tampil flawless dengan makeup ya. Boleh saja kalau satu atau dua hari tampil flawless di hari spesial. Tapi dalam kasus saya (atau mungkin ada yang mengalami hal yang sama dengan saya) makeup bukan pasangan yang tepat untuk kasus akne. Apalagi untuk tampil sehari-hari. Karena kosmetik juga bisa mengakibatkan penutupan di folikel pilosebasea atau kelenjar lemak/minyak yang jumlahnya banyak di wajah. Siapa yang bisa menjamin kalau produk kosmetik mu tak ada yang tersisa saat dibersihkan? Atau yakin bahwa kosmetik yang kita miliki tak menginduksi terjadinya jerawat. Sudah yakin kosmetik tersebut cocok dengan kondisi wajah?

Untuk saya sendiri mungkin tidak terlalu sulit ketika harus memilih ‘jerawat harus disembunyikan atau diobati?’ karena saya akan memilih diobati. Mengingat jerawat atau akne mengambil bab sendiri di buku penyakit Kulit & Kelamin. Iya jerawat itu penyakit bukan hanya sekedar estetis. Karena bagi saya hasil makeup akan tampak bagus kalau dikulit yang mulus, bukan hanya karena aplikasi 360. Makeup untuk saya sendiri itu usaha, enhance agar tampil lebih menarik. Untuk yang ingin selalu tampil flawless mungkin ini bukan pilihan mudah. Tapi kembali lagi koreksi makeup akan hilang ketika makeup tersebut dihapus. Jadi kalau mau tampil ‘mulus’ ya menggunakannya setiap hari, dengan resiko kosmetik tersebut bisa saja menutupi saluran kelenjar lemak dan membuat masalah akne tak selesai begitu saja.

Untuk yang sedang dalam pengobatan perlu diingat juga untuk menghindari pemakaian kosmetik, biasanya sekitar 1 bulan. Tapi tergantung targetnya, bisa tanyakan ke dokter kalian atau mengenal kondisi kulit sendiri atau target yang diinginkan. Untuk saya sendiri kalau dalam kondisi pengobatan seperti ini ya cukup pakai alis, eyeliner, lipstick nude, dan jerawat dalam pengobatan yang menjadi asesorisnya. Tampilan tersebut memang tidak cantik tapi tampil cantik perlu usaha. Di sini lah mental diuji hihi.

Jadi bagaimana apakah sudah memutuskan apakah jerawat akan selalu ditutupi atau diobati?

6 comments:

  1. Diobati tentu pilihan pertama. Tetapi jika tetiba menemui saat-saat kudu pake makeup, misal kondangan apa ketemu klien, pake makeup dulu deh, beberapa jam nggakpapa (abis mau gimana dong). Tapi di hari-hari biasa, nggak pake makeup. Biasanya cuman pelembap sm sunblock doang,, :D

    ReplyDelete
  2. Setuju jeng. Akupun klo acara spesial ya mau diapain lagi pasti kita mau tampil oke. Tapi jaman sekarang kan banyak waktu buat selfie yang 'harus' tampil hits juga. Klo buat ku ya kurangin dulu laaah.. :D

    ReplyDelete
  3. Mba cek ig @a.8pink ya disana ada krim obat jerawat. Aku jg punya cystic acne 8 biji di mukaku alhamdulillah sembuh

    ReplyDelete
  4. Mba cek ig @a.8pink ya disana ada krim obat jerawat. Aku jg punya cystic acne 8 biji di mukaku alhamdulillah sembuh

    ReplyDelete
  5. aku tim diobati sambil kalo bisa disembunyiin juga hehehe
    salam kenal ike :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Amalia. Kalau udah mendingan jerawat akan lebih mudah disembunyikan bukan? ;)

      Delete