Saturday, June 8, 2013

Bagaimana Memilih Produk Skin Whitening?

Hai beauties!

Berawal dari pos ini aku akan banyak curhat tentang beberapa permasalahan yang cukup catchy buat aku. Yang terkadang aku suka terpikir untuk memasukkan topik tersebut sebagai salah satu materi penyuluhan hahaha #PreventiveOverdose.

Ya tulisan ini serius-serius santai lah. Kasih sedikit info, ngajak mikir dan enaknya kamu ga harus setuju dengan apa yang aku tulis. Follower blog ini jelas tertarik dengan hal yang berkenaan dengan kecantikan. Tapi ga bisa aku gurui karena kamu juga pinter-pinter dalam memilih produk. Bahkan lebih banyak yang lebih pinter dari aku. Dan aku sadar, setiap orang punya prinsip, prioritas dan cara pandang yang berbeda. Buat aku, itu ga masalah. So, you can put your comments at the end of this post ;)

Sudah sejak lama terdapat pandangan bila memiliki kulit putih adalah yang tercantik. Setuju? Kalau aku sih setuju karena aku pun pernah berpikir seperti ini. Tapi untungnya (menurut aku), aku ga pernah beli produk-produk pemutih yang tidak jelas. Dan pandangan kalau putih lebih cantik ini membuat produk pemutih sudah banyak sekali beredar di Indonesia. Sepertinya perempuan yang menginginkan kulit putih ada banyak di Indonesia dan jadi sasaran empuk untuk pemasaran produk pemutih. Ada yang diresepkan dokter ada yang dijual bebas. Ada yang memiliki izin BPOM, ada juga yang tidak. Merek terkenal atau pun baru. Asli atau palsu. Dan harganya pun bervariasi dari yang murah hingga yang mahal. Tapi, apakah memakai produk pemutih baik untuk kulit kita?

Baik atau tidaknya produk pemutih tergantung dengan kandungannya. Kalau anda membaca isi produk atau pun resep dokter yang disebut dengan kadar dalam persen. Nah itu lah yang mempengaruhinya. Terlalu besar atau terlalu kecil bukan jaminan aman atau lebih baik pengobatannya. Karena dalam pengobatan kulit ada yang dinamakan dosis aman, yaitu kadar dalam range persen. Dan tentu saja dosis (dalam persen) tersebut boleh diracik oleh apoteker dengan resep dokter. Yang sudah dibuat sesuai kebutuhan pasien. Nah, berbeda dengan yang bernama kosmetik atau obat bebas. Dosisnya lebih kecil daripada yang diberikan oleh dokter. Kenapa? Ya karena bebas, pemakaiannya pun tanpa pengawasan orang yang kompeten.

Dan hal yang juga masih banyak dianut dalam menggunakan produk kulit adalah, semakin banyak semakin bagus. Semakin cepat putih. Aduh, ini salah! Penggunaan obat atau produk kulit ini bukan tergantung banyak atau sedikit. Tapi dari dosis yang terkandung. Jadi, sesaat setelah penggunaan produk tersebut diserap oleh kulit dan kemudian zat-zat yang terkandung di dalamnya bekerja untuk kebaikan kulit. Tetapi bukan hanya kandungannya saja yang berefek, tapi juga zat pencampurnya. Prinsipnya seperti zat pelarut dan zat terlarut. Kalau ada tulisan zat A 10% itu berarti dalam 1 pot ada 90% zat lainnya. Dan yang menentukan efektif atau tidaknya produk tersebut bukan hanya kadar A tapi juga zat tambahan lain di dalamnya. Cocok atau tidaknya suatu produk juga bisa ditentukan oleh zat tambahan tersebut apakah efeknya membuat kulit kita berminyak, kering, timbul reaksi alergi atau pun jerawat. Kalau sudah cocok, bagaimana cara mendapatkan hasil yang maksimal? Nah, itu tergantung lagi dengan petunjuk pemakaian yang tertera atau yang diberikan oleh dokter.

Jadi sangat bisa dimengerti mengapa banyak produk yang berbeda-beda isinya, mereknya, harganya dan efeknya. lalu bagaimana memilih produk pemutih yang baik? Sekarang ini orang kalau cari apa-apa pasti nanya ke mbah google. Termasuk mencari jawaban produk yang bagus yang mana. Tidak salah kok. Tinggal search dan kita bisa lihat ulasan produk serta hasilnya. Tapi yang paling penting bila ingin menggunakan produk bebas pastikan bila produk tersebut terdaftar di BPOM. Kenapa? Karena kandungannya sudah diteliti terlebih dahulu dan kalau lolos berarti aman untuk dipasarkan. Seperti yang tadi sudah aku jelaskan sebelumnya kalau kadar kosmetik dan obat bebas ini lebih rendah dari obat yang diresepkan oleh dokter. Karena pemakaiannya tidak diiringi dengan pengawasan orang yang kompeten. Bayangkan saja bila terjadi sesuatu pada konsumen? Karena produsen terikat dengan UU Perlindungan Konsumen, maka produk yang beredar pun juga harus memenuhi kebutuhan konsumen dan tidak merugikan. Sedangkan bila kita memilih menggunakan produk yang tidak terdaftar di BPOM, sudah jelas kalau isinya tidak terbuka walau pun sang penjual mengatakan isinya A, B, C dan D. Resikonya? Tapi penjual seperti ini bisa juga terkena UU Perlindungan Konsumen karena sebagai pedagang melanggar undang-undang tersebut, cmiiw.

Lalu bagaimana dengan obat yang diresepkan dokter? Perlu saya ingatkan kembali, bila dokter bukanlah dewa atau Tuhan. Bukan pula orang paling benar dan paling pintar. Tapi dokter telah menempuh pendidikan, terikat Sumpah Hippocrates dan memiliki kode etik sehingga sebisa mungkin mengobati dan tidak menyakiti pasien. Seperti yang sudah aku uraikan sebelumnya, dokter 'bisa bermain' dalam membuat resep sehingga tercipta racikan yang (diusahakan) pas untuk pasiennya. Dan resep tersebut akan diberikan ke apoteker untuk menciptakannya. Ini lah yang disebut kedokteran adalah art, seni pengobatan. Karena setiap pasien memiliki faktor yang berbeda-beda dalam menentukan keberhasilan dalam pengobatan. Karena itu pula obat setiap pasien tidaklah selalu sama. Dan sama saja dengan kosmetik dan obat bebas, bila digunakan pada orang yang berbeda formula A mungkin sekali bila menghasilkan efek yang berbeda pada 2 orang penggunanya.

Masalah cocok-cocokan. Sama halnya seorang konsumen mencari sebuah produk yang terbaik untuk dirinya, yaitu yang sesuai dengan apa yang dia impikan. Pergi kesana-kemari mencoba produk satu persatu untuk menemukan produk impiannya. Memilih dokter mungkin bisa dibayangkan sebagai memilih produk, karena dokter yang kita pilih akan menghasilkan obat yang cocok dengan kita :)

Yang sudah banyak menjadi stigma pada perempuan adalah, menggunakan obat dokter itu bikin ketergantungan. Apa iya? Kulit kita berganti sekitar 2-3 minggu sekali. Bagian atas akan digantikan lapisan kulit yang paling bawah. Begitu seterusnya seumur hidup. Tanpa menggunakan obat dokter pun (menggunakan obat bebas yang cocok), kalau kita menginginkan kulit yang baik hingga tua nanti ya memang harus dirawat SEUMUR HIDUP. Karena obat atau kosmetik yang kita gunakan ini berefek pada pembentukan kulit. Jadi bila kita memberhentikan pemakaian tersebut, zat yang terkandung dalam produk tidak lagi menutrisi kulit. Dan ini yang lama-kelamaan akan membuat kulit kembali kepada kondisi awal. Lebih parahnya kadang ke kondisi yang lebih buruk, dan hal ini banyak disebabkan oleh kandungan obat bebas yang tidak teregistrasi di BPOM. Jadi bila menginginkan kulit yang cantik ya memang harus harus dirawat terus menerus karena kulit kita terus regenerasi.

Kalau sehabis pemakaian lalu kulit kamu belang dengan kulit badan dan ga balik lagi? Coba deh pikir, kira-kira kandungan seperti itu berat ga sih? Hingga bisa membuat warna kulit kamu berubah? Apalagi kalau perubahannya singkat, hanya dalam 2-3 minggu. Dan ada juga yang efek perubahan warnaya menetap. Kalau lebih cepat efeknya dari obat yang diresepkan dokter, kamu harus mikir berapa persen tingginya kandungan zat tersebut? Dijual bebas, bukan diresepkan dokter, efeknya cepat dan tidak memiliki registrasi BPOM. Belum teregistrasi atau tidak mau diregistrasi? Hmm..

Manakah yang terbaik, mahal atau murah? Aku akan jawab, yang cocok untuk kulit kamu! Selain cocok untuk kulit kamu tentunya sesuai dengan kantong hehe. Banyak orang menganggap ke dokter itu mahal. Ya sih, apalagi kalau kita ke dokter dengan segala keinginan yang tinggi. Kalau begitu wajar kan kalau kamu menghabiskan Rp 150.000 - Rp 250.000 untuk biaya konsultasi ke dokter spesialis kulit untuk memeras ilmu mereka hingga kamu mendapatkan produk yang kamu inginkan. Untuk biaya obatnya bervariasi dengan apa yang akan dihasilkan. Produk yang baik biasanya lebih mahal (Bukan karena dokternya tahu ini produk bagus lalu diberikan harga yang mahal. Tapi pabrik obat yang menentukannya, produk bagus jelas punya harga bagus).

Apakah lebih murah bila memakai produk bebas? Bisa kamu hitung dan bandingkan berapa banyak biaya yang kamu keluarkan untuk mendapatkan hasil yang sama dengan menggunakan obat dokter dan obat bebas. Jangan-jangan malah lebih mahal yang bebas (terdaftar/tidak terdaftar BPOM)?

Menjadi putih adalah pilihan kamu. Tapi percaya deh, memiliki kulit cerah itu lebih baik. Dan kalau kamu teliti dengan tulisan produk atau pun iklan, mereka bermain kata sehingga bisa disimpulkan kalau produk yang terdaftar di BPOM ini bukan membuat putih tapi lebih cerah.

Kayaknya sudah panjang banget dan kayaknya belum semua isi pikiran aku tumpah di sini. Rasa-rasanya baru netes. Topik putih ini memang beberapa kali aku bahas di twitter. Tapi aku yakin pembaca di sini cakupannya lebih luas dan aku harap bisa membantu untuk memilih produk pemutih yang aman untuk kamu.

See you on the next post, bye!

10 comments:

  1. Keren postingannya :D

    Sering banget kejadian org berhenti pake skin care tertentu karena ngga puas dengan hanya sekedar cerah, pengennya putih. Akhirnya malah pake skin care ngga jelas yang diklaim sellernya lg proses di bpom, aman, dll.

    Kayaknya buat sebagian orang, jadi putih itu segala-galanya, tanpa peduli produk yg dia pake itu berbahaya ato ngga. Kalopun tau berbahaya, yaudah lanjut pake, ntar kalo udah kinclong baru berhenti... :( sampe udah jadi penyakit pun masih ada yg tetep ngga peduli dengan keamanan skin carenya...

    Moga-moga makin banyak yang aware dengan keamanan skin carenya, amiiiinnn
    Nice post mba ikee :D thanks for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. selama orang berpikir bahwa warna kulit bisa berubah jadi putih karena suatu produk, ya akan selalu ada yang mengambil kesempatan juga untuk menyediakan produknya :)

      terima kasih sudah membaca dan share pengalamannya juga ya

      Delete
  2. setuju nih dengan post mbak ike ..
    soalnya aku pernah tergoda sama yg namanya putih bedelau ala syahrini -..-"
    dan aku coba deh produk yang ditawarin sama sang OS.
    hasilnya muka aku kayak macan tutul .
    bukan malah putih..*padhl saat itu aku gak item
    akhirnya ak berhenti make tuh produk dan beralih ke resep pucuk daun rambutan ala mamaku .
    hasilnya malah lebih memuaskan .
    selain kulit belang macan aku ilang wajah aku jadi putih dan kenyal juga :D

    selalu berbagi ya mbak ike :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mona.
      syukurlah sudah kembali sehat ya kulitnya :)

      Delete
  3. mau ngikut share info kak, kebetulan minggu kemaren materi analisis kosmetik nyinggung masalah bahan pemutih arbutin...
    Setelah kasus hidrokuinon mulai mereda, sekarang mulai muncul krim-krim pemutih yang klaimnya mengandung arbutin yang merupakan zat pemutih alami yang lebih aman dari hidrokuinon. Tetapi kok masih ditemukan kasus kulit wajah yang malah menggelap setelah penggunaan krim pemutih yang mengandung arbutin.

    Arbutin emang bisa mencerahkan kulit, tetapi arbutin itu senyawa yang enggak stabil dalam proses pembuatannya dan bisa pecah menjadi senyawa hidrokuinon+gula. Kita gak bisa menjamin 100% apakah si produsen memformulasi isi krim pemutih itu dengan studi literatur atau cuman asal campur aja. Didalam suatu produk kan gak 100% bahan aktif, pasti ada bahan tambahan yang fungsinya meningkatkan aktivitas si bahan aktif ataupun menjaga kestabilan bahan aktif. Kalo aja si produsen cuman asal campur bahan tambahan, bisa jadi kan mengganggu kestabilan si arbutin itu. Makanya kita harus jeli dalam memilih produk, produk itu harus teregistrasi di BPOM sehingga bisa terjamin keamanannya jika digunakan. Bisa jadi krim pemutih yang mencatut nama artis terkenal itu tanpa nomor BPOM, formulasi krimnya enggak bener, kandungan arbutinnya sudah rusak, sehingga yang digunakan oleh konsumen adalah hidrokuinon, makanya yang ada kulit gak nambah putih tapi malah muncul flek-flek..

    nice post kak, postingannya bikin mikir nih hihihi
    lain kali dibahas aja kan agen pemutih yang aman itu apa aja
    kak ike kuliahnya kedokteran ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. terim kasih ekha sudah infoin tentang arbutin. mungkin kalau sudah dapat literaturnya mungkin akan aku bahas, tapi masalahnya adalah takut susah diterima gitu sama yang baca hihi.

      Delete
  4. Selamat Pagi Bu Dokter key.. salam super...

    begini, kulit saya belang.. aslinya kuning langsat, tp karena ada bagian yg tak tertutupi seperti lengan leher wajah dan telapak kaki jd gelap coklet gitu dan saat mandi, terlihatlah bahwa kulit tubuh saya belang macam papan catur. sudah saya cb mandi dgn sabun macam-macam ga berubah. adakah sugesti maupun solusi? thankyou... *catatan, saya blm pernah cb produk whitening wajah macam-macam*

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam super! hahaha.

      Jadi seorang laki-laki mengeluh kulitnya belang gitu ya pada bagian yang sering terpapar matahari? Kalau mau jadi rata atau ga keliatan belangnya ya pakai sunblock mulai sekarang. Ya di wajah ya di badan. Selama masih terpapar panas dan matahari akan tetap hitam. Tapi sunblock akan mengurangi.

      Tambah lagi nih, cuci muka yang rajin sehari minimal 3x. Peeling wajah dan luluran/pakai scrub badan 2 minggu sekali. Untuk scrub pakai yang whitening boleh lah. Dan hasilnya tergantung kerajinan memakai rangkaian tersebut.

      Pertanyaannya, apakah sodara rizky mau menggunakan perawatan seperti itu? :D

      Yaudah, semoga cepet putih ya!

      Delete
  5. Postingan yang berbobot hehe.. alhamdulillah :)

    Mau nanya sedikit mbak, kalo misal ada hiperpigmentasi di wajah (warna kulit ga merata) itu bisakah menggunakan produk pencerah hanya di bagian yang ingin dicerahkan supaya paling tidak mendekati warna kulit asli? Saya tidak berniat memutihkan karena bule bule putih itu justru bangga kalo punya kulit tanned XD, tapi paling engga tersamarkan lah.. Karena saya udah mencoba berbagai masker dan scrubing dari bahan alami tetapi sepertinya butuh effort lebih. Jika ada rekomendasi produk atau saran how to, saya berterima kasih sekalii :)

    Salam alami :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada beberapa produk yang memang memberikan efek cerah. Tapi kalau kamu lebih memilih bahan alami, aku pun tak ada saran. Karena bahan alami juga memiliki efek yang kecil karena biasanya yang digunakan di produk bebas itu sudah ekstraknya dan kadarnya juga sudah disesuaikan.

      Mungkin aku harus tahu hiperpigmentasinya kenapa? Karena kamu sudah rajin melakukan rangkaian exfoliasi kayaknya kamu memang butuh effort lebih kalau aku saran kamu ke dokter kulit saja. Karena produk pemutih gitu ga bisa sembarangan dipakai.

      Dan karena aku juga ga punya pengalaman menggunakan produk bebas yang bikin kulit jadi lebih putih. Efek lebih cerah kan juga karena kulit matinya sudah diangkat. Sedangkan bila ada hiperpigmentasi hanya terlihat memudar saja.

      Mudah-mudahan mbantu (walaupun aku rasa ga hehe).

      Delete